Langsung ke konten utama

Membaca= Melawan


 Ketika sedang maraknya huru-hara di negri ini, ada beberapa anak-anak yang berjuang demi mempertahankan kehidupannya di tengah hutan dari para cukong yang kerap kali membohongi mereka dengan surat-surat yang mereka tidak bisa membacanya, dan harus di cap jempol untuk tanda menyetujuinya.

 Lantas cukong itu kembali dengan membawa sejumlah alat pemotong kayu untuk menebang pohon dan membangun lahan dan mengusir kehidupan orang-orang didalamnya dengan alasan surat yang sudah di setujuinya.

 Dari situlah saya bilang bahwa membaca adalah melawan, melawan kebodohan, melawan pembodohan. Kita tak mesti sekolah tinggi, kita tak mesti mendapatkan ijasah. mampu membaca dan berhitung tapi kita bisa melawan atas kebijakan yang tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan prikeadilan saja kita sudah sangat merasa berjasa bagi kehidupan kita sendiri.


 Membaca melawan ketidak adilan, membaca melawan kesenjangan sosial, membaca melawan segala kasus hak asasi manusia untuk melanjutkan hidupnya sebagai ciptaan Tuhan.

 Lihatlah mereka yang berjuang melawan sebuah penindasan atas kehidupan mereka yang terancam. Lihatlah mereka yang berjuang atas keinginan untuk terwujudnya suatu kemerdekaan.



 Berbagai macam keluhan masyarakat yang membuktikan ketidak percayaan terhadap pemimpinya sendiri telah kami dengar dari ujung indonesia, kalau rakyat sudah tidak percaya atas pemimpinnya sendiri bagaimana lantas para elit politik menyikapi tersebut. Bukankah mereka para elit lolitik di pilih oleh rakyat..? Ada suatu kejanggalan sebenarnya dari mulai proses pemilihan sampai masa akhirnya jabatan yang sedang menjadi topik hangat di negri ini.

Salam refolusi, saya bukan pers

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPAR (antara tambang atau mati)

Berbagai polemik yang sedang dihadapi oleh negeri ini, dari mulai undang-undang yang kontroversial yang hanya menguntungkan kaum atas dan elite politik saja. Beberapa hari yang lalau saya melewati Maluku Utara, dan melihat berbagai kehidupan dan ekonomi masyarakat. Dari mulai kota Ternate, Tidore, sampai ke Halmahera tengah. Ya sebagian besar masyarakat pesisir melakukan pekerjaan mencari ikan atau nelayan, tapi banyak juga dari mereka memilih untuk bekerja di tambang milik perusahaan asing yang bekerja sama dengan pemerintah setempat. Di Halmahera khususnya, ada sekitar 113 izin usaha tambang dan 17.000 hektar lahan sawit di Halmahera selatan, tambang menjadi masalah utama bagi masyarakat yang berpikir akan lingkungan, sudah sangat jelas tambang sangat merusak kelestarian alam, dari mulai hutan, sungai, sampai ke laut, sekitar satu minggu yang lalu ada banyak ikan mati karena terkena limbah dari tambang, dan itu sangat jelas akan merugikan nelayan sekitar. Dan akankah masyarak...

MUSAMUS: Nggak banyak omong tapi nyata

Musamus atau rumah semut sebenarnya bukanlah sarang yang dibuat oleh semut. Lebih tepatnya, mahakarya alam Merauke ini adalah sarang dari hewan sejenis rayap Macrotermes sp. Bicara tentang sarang serangga, tentu di pikiran kita akan terbayang sarang yang berukuran kecil. Namun, Musamus berukuran sangat besar, bahkan ratusan kali lipat serangga pembuatnya. Tingginya bisa mencapai 5 meter dengan diameter lebih dari 2 meter, dan ukurannya bervariasi di atas permukaan tanah. Rayap yang tinggal di dalam Musamus bukanlah rayap yang kita kenal sehari-hari sebagai rayap perusak. Mereka bukanlah serangga pengganggu dan umumnya mereka hidup jauh dari pemukiman manusia. Rayap jenis ini terkenal mandiri dan mereka membangun rumah mereka sendiri tanpa bermaksud merusak pemukiman manusia. Musamus terbentuk dari bahan dasar rumput kering, tanah, dan air liur rayap pembuatnya. Rayap-rayap tersebut membangun istana mereka dengan sangat kokoh dan kuat, bahkan mampu menahan berat manusia dewasa saat me...

Single speed: Antara sengsara dan kurang kerjaan

Banyak yang heran ketika saya touring menggunakan sepeda single speed, khusunya kawan-kawan dari kauh federalist dan mountain bike, karena mereka lebih sering memakai sepeda dengan speed yang saya firkir berlebihan, dan pada akhirnya di tanjakan ndorong juga. Dari 7-11 speed bahkan ada yang memakai mega crank. Februari memasuki bulan ke delapan perjalanan saya, dan telah tiba di kota Ternate Maluku utara, gila single speed bisa spai Ternate, mungkin ada yang bilang seperti itu, dan juga banyak muncul pertanyaan dengan sepeda yang saya pakai ini. Dari mulai model yang berbentuk kuno dan jadul, buluk, yang harusnya sudah tidak layak pakai, “ terus itu gimana kalau di tanjakan..?” mungkin lebih dari seratus orang yang bertanya seperti itu pada setiap istirahat atau berjumpa beberapa kawan pesepeda di jalan. Saya jawab dengan enteng saja, kalau di tanjakan ya ndorong, ya karena perjalanan ini begitu woles dan santuy. Sedikit tentang sejarah sepeda saya, sepeda ini saya beli dari pe...